Tuesday, September 18, 2012

Stek Kopi



Untuk mendukung produksi kopi berkualitas ekspor, masyarakat Kota Pagaralam kini mulai melirik atau mengembangkan kopi stek. Selain buahnya lebih banyak dari kopi biasa, perawatan kopi yang dikembangbiakkan melalui stek ini tidak rumit serta tahan hama.

Hanya saja, saat panen atau memetik buahnya, harus benar-benar matang atau masak. Hal ini untuk meningkatkan kualitas biji kopi yang akan dihasilkan nantinya. Sementara itu, hingga saat ini sudah hampir 60% petani kopi yang sudah berupaya untuk meningkatkan hasil panen atau buah kopi dengan melakukan stek.

Didi, 28, petani asal Pagar Banyu, mengungkapkan, sekarang ini untuk mengupayakan peningkatan hasil panen kopi dari biasanya, dirinya telah melakukan penyetekan terhadap pohon kopi yang ada di kebunnya.
Stek dilakukan untuk pohon kopi yang hasilnya sedikit, lalu dikawinkan dengan pohon yang buahnya banyak. Didi menjelaskan, untuk melakukan penyetekan tidak bisa dilakukan sembarangan, harus dipilih bibit kopi yang bagus.
“Untuk menyetek kiranya dapat memilih bibit yang baik. Ini agar hasil yang akan didapat nantinya dapat sesuai dengan apa yang diinginkan,” ujar Didi, seraya mengatakan bahwa dalam melakukan penyetekan diharapkan pada musim penghujan agar kopi yang distek tidak layu dan mati.
Bila kopi tidak dilakukan penyetekan, ulas Didi, maka paling banyak buah yang dihasilkan mencapai 1,5 kg per pohon. Tetapi, bila kopi stek ditambah dengan kualitas unggul, paling sedikit biji kopi yang dihasilkan 3 kg per pohon.
“Memang kopi stek hasilnya lebih banyak dari kopi yang tidak dilakukan penyetekan. Untuk kopi stek bisa menghasilkan biji hingga mencapai 5 kg per pohon. Bayangkan saja, jika semua petani melakukan penyetekan, pasti hasil yang didapatkan akan banyak,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagaralam HA Kadir mengatakan, saat ini petani kopi sudah banyak yang melirik pengembangan budi daya kopi stek.Dari hasil yang sudah dilakukan,petani memang cukup berhasil, buahnya cukup lebat.
“Untuk sekarang ada sejumlah daerah yang sudah membudidayakan kopi dengan cara stek dan sudah beberapa kali panen, seperti di Muarasiban, Kerinjing, Dempo Tengah dan sejumlah daerah lainnya,” tukasnya.
Kadir menjelaskan, sekarang pihaknya sedang melakukan uji coba terhadap 800 batang kopi stek. Jika berhasil, lahan dan pohon akan diperbanyak lagi menjadi 1.000–1.500 batang.
“Diharapkan semua petani untuk melakukan pengembangan budi daya kopi stek yang sudah banyak dikembangkan petani kopi di daerah Dempo Utara dan Dempo Selatan,” ujarnya. (yayan darwansah/SINDO)









BUDIDAYA TANAMAN KOPI

I.                Pendahuluan
Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi di pasaran dunia, di samping itu tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Jawa Barat.
Tanaman kopi jenis arabika sat ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kopi Robusta yang mana pada tahun 1990 harga kopi Arabika 1,85 U$D/Kg, sedangkan kopi Robusta 0,83 U$D/Kg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan harga kopi Robusta di pasaran dunia antara lain :
  1. Kelangkaan pasok jenis kopi Arabika.
  2. Kopi robusta mengalami over supply.
  3. Penggunaan kopi Robusta semakin tinggi.
  4. Situasi pasaran dunia untuk jenis Robusta menurun sehingga ICO melakukan pemotongan kuota sebanyak 2 kali lipat dalam setahun.
Dari hal tersebut perlu adanya usaha pemilihan jenis kopi yang mempunyai nilai ekonomis dan rasa yang relatif baik serta yang tahan terhadap penyakit karat daun.  
Usaha untuk merebut peluang pasar kopi antara lain dengan Pengembangan tanaman kopi Arabika melalui kegiatan peremajaan, peluasan dan rehabilitasi tanaman kopi dari kopi Robusta menjadi kopi Arabika.

II.            Pengertian
1.                   Peremajaan
Peremajaan adalah usaha menggantikan tanaman yang secara ekonomis tidak menguntungkan lagi karena produktivitasnya rendah sehingga perlu diganti dengan yang baru dan dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi.
2.                 Perluasan
Kegiatan perluasan adalah menanam tanaman kopi di areal baru yang lingkungannya sesuai dengan persyaratan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi.
3.                 Rehabilitasi
Rehabilitasi kebun adalah kegiatan untuk memulihkan kondisi kebun ke keadaan yang lebih baik, sehingga produktivitasnya meningkat. Rehabilitasi tanaman ditujukan pada populasi tanaman yang telah berkurang karena kesalahan kultur teknis, serangan hama dan penyakit serta kekeringan yang akan akan mengakibatkan produktivitas tanaman per hektar rendah atau tidak menguntungkan untuk diusahakan.
III.       Budidaya Tanaman Kopi Arabika
Pada dasarnya untuk usahatani dan budidaya kopi arabika melalui kegiatan Perluasan, Peremajaan dan Rehabilitasi adalah sama seperti pada kegiatan penanaman baru, yaitu :
1.    Syarat Tumbuh
·        Lokasi
ü      Letaknyas terisolir dari pertanaman kopi varietas lain ± 100 meter.
ü      Lahan bebas hama dan penyakit
ü      Mudah pengawasan

·        Tanah
ü      PH tanah              : 5,5 – 6,5
ü      Top Soil              : Minimal 2 %.
ü      Strukrur tanah    : Subur, gembur ke dalaman relative > 100 cm.
·        Iklim
ü      Tinggi tempat      : 800 – 2000 m dpl
ü      Suhu                   : 15º C – 25º C.
ü      Curah hujan         : 1.750 – 3000 mm/thn
                                           Bulan kering 3 bulan
2.    Bahan Tanaman
Untuk perbanyakan tanaman di lapangan diperlukan Bibit Siap Salur dengan kriteria sebagai berikut :
ü      Sumber benih                  : Harus berasal dari kebun induk atau
                                              perusahaan yang telah ditunjuk.
ü      Umur bibit                      : 8 -12 bulan
ü      Tinggi                             : 20 -40 cm
ü      Jumlah minimal daun tua   : 5 – 7
ü      Jumlah cabang primer      : 1
ü      Diameter batang              : 5 – 6 cm
Kebutuhan bibit/ha
·        Jarak tanam                    : 1,25 m x 1,25 m
·        Populasi                           : 6.400 tanaman
Untuk sulaman                      : 25 %
3.    Penanaman
a.      Jarak Tanam
Sistem jarak tanam untuk kopi arabika antara lain :
ü      Segi empat        : 2,5 x 2,5 m
ü      Pagar                : 1,5 x 1,5 m
ü      Pagar ganda       : 1,5 x 1,5 x 3 cm
b.    Lobang Tanam
ü      Harus dibuat 3 bulan sebelum tanam.
ü        Ukuran lubang 50 x 50 x 50 cm, 60 x 60 x 60 cm, 75 x 75 x 75 cm atau 1 x 1 x 1 m untuk tanah yang berat.
ü      Tanah galian diletakan di kiri dan kanan lubang.
ü      Lubang dibiarkan terbuka selama 3 bulan.
ü      2 -4 minggu sebelum tanam, tanah galian yang telah dicampur dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15/20  kg/lubang, dimasukkan kembali ke dalam lubang.
ü      Tanah urugan jangan dipadatkan.
  1. Penanaman
ü      Penanaman dilakukan pada musim hujan
ü      Leher akar bibit ditanam rata dengan permukaan tanah.
4.     Pemeliharaan
a.      Penyiangan
·        Membersihkan gulma di sekitar tanaman kopi.
·        Penyiangan dapat dilakukan bersama-sama dengan penggemburan tanah
·        Untuk tanaman dewasa dilakukan 2 x setahun
b.     Pohon Pelindung
·        Penanaman pohon pelindung
ü      Tanaman kopi sangat memerlukan naungan untuk menjaga agar tanaman kopi jangan berbuah terlalu banyak sehingga kekuatan tanaman cepat habis.
ü      Pohon pelindung ditanam 1 – 2 tahun sebelum penaman kopi, atau memanfaatkan tanaman pelindung yang ada.
ü      Jenis tanaman untuk pohon pelindung antara lain lamtoro, dadap, sengon, dll.

·        Pengaturan pohon pelindung
ü      Tinggi pencabangan pohon pelindung diusahakan 2 x tinggi pohon kopi
ü      Pemangkasan pohon pelindung dilakukan pada musim hujan.
ü      Apabila tanaman kopi dan pohon pelindung telah cukup besar, pohon pelindung bisa diperpanjang menjadi 1 : 2 atau 1 : 4.
c.      Pemangkasan Kopi
·        Pangkasan Bentuk
ü      Tinggi pangkasan 1,5 – 1,8 m
ü      Cabang primer teratas harus dipotong tinggi 1 ruas
ü      Pemangkasan dilakukan di akhir musim hujan
·        Pangkasan Produksi
ü      Pembuangan tunas wiwilan (tunas air) yang tumbuh ke atas.
ü      Pembuangan cabang cacing dan cabang balik yang tidak menghasilkan buah.
ü      Pembuanagn cabang-cabang yang terserang hama penyakit.
ü      Pemangkasan dilakukan 3 – 4 kali setahun dan dikerjakan pada awal musim hujan.
·        Pangkasan Rejupinasi (pemudaan)
ü      Ditujukan pada tanaman yang sudah tua dan produksinya sudah turun menurun
ü      Pada awal musim hujan, batang dipotong miring setinggio 40 – 50 cm dari leher akar. Bekas potongan dioles dengan aspal.
ü      Tanah disekeliling tanaman dicangkul dan dipupuk
ü      Dari beberapa tunas yang tumbuh pelihara 1 -2 tunas yang pertumbuhannya baik dan lurus ke atas.
ü      Setelah cukup besar, disambung dengan jenis yang baik dan produksinya tinggi.

5.     Pemupukan
a.      Dosis pemupukan kopi per pohon adalah :
·  Umur 1 tahun            : 50 gr Urea, 40 gr TSP, dan 40 gr KCL.
·  Umur 2 tahun            : 100 gr Urea, 80 gr TSP, dan 80  gr KCL.
·  Umur 3 tahun            : 150 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.
·  Umur 4 tahun            : 200 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.
·  Umur 5-10 tahun       : 300 gr Urea, 150 gr TSP, dan 240 gr KCL.
·  Umur 10 thn keatas   : 500 gr Urea, 200 gr TSP, dan 320 gr KCL.
b.     Pupuk diberikan dua kali setahun yaitu awal dan akhir musim hujan masing-masing setengah dosis.
c.      Cara pemupukan dengan membuat parit melingkar pohon sedalam ± 10 cm, dengan jarak proyek tajuk pohon (± 1 m)

6.    Pengendalian Hama Penyakit.
a.      Hama
·        Hama Bubuk Buah
ü      Penyebab adalah sejenis kumbang kecil
ü      Menyerang buah muda dan tua
ü      Pengendalian dengan mekanis yaitu dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang, secara kultur teknis dengan penjarangan naungan dan tanaman sedangkan secara chemis dengan Insektisida Dimecron 50 SCW, Tamaron, Argothion, Lebaycide, Sevin 85 S dengan dosis 2 cc / liter air.
·        Bubuk Cabang (Xyloborus moliberus)
ü            Menyerang/menggerek cabang dan ranting kecil 3 – 7 dari pucuk kopi.
ü            Daun menjadi kuning dan rontok kemudian cabang akan mongering.
ü            Pengendalian sama seperti pada hama bubuk buah.
b.     Penyakit
Penyakit Karat Daun
ü             Penyebab adalah sejenis Cendawan.
ü             Tanda serangan ada bercak-bercak merah kekuningan pada bagian bawah daun, sedangkan di permukaan daun ada bercak kuning. Kemudian daun gugur, ujung cabang muda kering dan buah kopi menjadi hitam kering dan kualitas tidak baik selanjutnya tanaman akan mati.
ü             Pengendalian secara kultur teknis dengan menanam jenis kopi arabika yang tahan sepertio S 333, S 288 dan S 795 serta menjaga agar kondisi FungisidaDithane M-45 dengan dosis 2 gr/liter air.
c.      Panen
·        Kopi Arabika mulai berbuah pada umur 4 tahun.
·        Petik buah yang betul masak dengan warna merah, tua agar menghasilkan kopi yang berkualitas.
·        Pada waktu panen (pemetikan) agar berhati-hati supaya tidak ada bagian pohon/cabang/ranting) yang rusak.




yoga rinanda

Mohon untuk komentar dengan baik dan sopan :)

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright @ 2013 blogged.